Posted by: taufiqn | June 18, 2008

Bahaya di jalan (1)

Bagi yang sedang atau pernah sekolah, tentu sudah maklum dengan ritual yang namanya ulangan. Ulangan biasanya (dan bodohnya) digunakan untuk mengukur prestasi seorang siswa. Untuk menunjukkan kalau sekolah yang pandai mengeruk harta itu masih memiliki welas asih, biasanya selalu ada kesempatan bagi mereka yang “bodoh”. Padahal itu hanya upaya untuk mendongkrak akreditasi P

Dengan standar nilai yang berbeda (antara 50-65), mereka yang memiliki nilai dibawah standar diberi kesempatan untuk mengikuti perbaikan (Her, perbaikan, remedy, dll). Seorang guru yang benar dan adil tentunya paham bahwa sebagus apapun nilai perbaikan, tentunya tidak dapat melebihi nilai mereka yang lolos dari jeratan perbaikan (walaupun ada juga oknum guru-guru gila yang melanggarnya).

Dengan asumsi demikian, maka mereka yang mengikuti perbaikan tidak akan melebihi nilai dari mereka yang tidak mengikuti perbaikan. Sehingga peserta terbaik dari ulangan perbaikan “kasta”-nya maksimal adalah sama dengan “kasta” terendah dari mereka yang tidak mengikuti perbaikan. Menurut saya memang inilah yang terbaik demi keadilan (kalau memang keadilan masih ada).

Ceritanya sekitar satu minggu yang lalu saya hendak berangkat menemui seseorang. Dengan hati agak kesal karena SMS untuk seseorang yang sangat penting tidak terkirim (padahal sudah susah payah merampok pulsa) mobil milik kakak saya pacu. belum seratus meter HP saya berbunyi. Rupanya kakak saya yang lain menelepon.

Kakak Saya (KS): Dun, kamu tolong cepet ke sini, depannya gapura Trans TV

Saya: Kenapa No?

KS: Mobil saya mogok

Saya: Ok bos

Langsung saja mobil saya putar ke arah yang dimaksud. Sesampainya di sana kami memutuskan untuk menarik mobil tersebut karena hujan deras tidak memungkinkan untuk memperbaikinya di tempat. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka lampu hazard (dua lampu kedip-kedip) terus dinyalakan.

Baru beberapa ratus meter, ada sebuah sepeda motor berusaha menyalip dari arah kanan. Ibu-ibu yang mengenakan pakaian (disinyalir pakaian dinas PNS) itu hendak menyalip mobil kami dan masuk ke tengah-tengah. Untung kakak saya cepat tanggap dan menghentikan mobil. Kalau terlambat sedikit saja, mungkin kita akan makan PNS penyet untuk menggantikan tempe penyet biasanya.

Sampai, rumah kakak saya yang memang orangnya cuek dan keras langsung memaki-maki sambil tertawa.

KS: Dasar PNS gila…… untung gak mampus tuh orang

Saya: Dia itu nggak liat lampu hazard ta? emangnya dikira kita rombongan anak muda gila yang suka konvoi waktu tahun baru?

KS: paling juga dia nggak ngerti artinya lampu hazard… taruhan berapa SIM-nya pasti Nembak. (tertawa)

Saya diam-diam tertawa sekaligus malu. Memang “Nembak” SIM alias mengurus SIM diluar prosedur resmi sudah bukan rahasia lagi. Sebab bila mengikuti prosedur resmi kita akan melewati serangkaian ujian terlebih dahulu sebelum bisa turun ke jalan. Cara menembak ini juga bermacam-macam. Yang paling umum adalah melalui calo yang tersedia di tempat pengurusan SIM. Sedangkan cara satunya adalah menggunakan jasa sebuah instansi/organisasi untuk melakukan pengurusan SIM kolektif. Cara terakhir inilah yang saya ikuti.

Saya sepenuhnya sadar bahwa cara yang saya tempuh untuk mengurus SIM bukanlah cara yang benar (baca sesuai prosedur). Untuk itulah saya tidak pernah berani menghujat orang-orang yang memilih untuk “nembak” SIM. Tapi sebagai anggota kaum “penembak” SIM, saya akan selalu mengutuk perilaku para “penembak” SIM yang tidak tahu diri.

Bagi saya, sebagai “penembak”, sudah selayaknya kita mempelajari peraturan-peraturan lalu lintas yang memang wajib kita ketahui agar tidak memalukan. Sehingga terkadang saya lebih tahu peraturan lalu lintas daripada teman saya yang mengambil SIM dengan cara halal.

Meskipun begitu, saya tetap sadar diri. Seperti layaknya siswa yang mendapat nilai setelah melalui ujian perbaikan, saya tetap kasta terbawah. Sepaham dan setinggi apapun kemampuan berlalu lintas saya, saya tetap tidak lebih baik dari mereka yang mengurus SIM dengan cara halal. Tapi setidaknya saya selalu berusaha mendekati batas bawah tersebut agar tidak terlalu malu-maluin.

Hal inilah yang membuat saya benci sekali dengan orang yang tidak tahu diri di jalanan. Apalagi bagi mereka yang SIM-nya “nembak”. Sadar diri dong!!!!! sudah dapet SIM-nya nggak halal malah menunjukkan kebodohannya. Makanya saya paling benci sekaligus malu kalau melihat mereka yang belum cukup umur, punya SIM (yang sudah pasti hasil “nembak”), dan ugal-ugalan di jalanan (apalagi masih pakai seragam…. dimana sih otak orang tuanya?). Tahu diri sedikit dong, jangan bikin kami (tukang “nembak” SIM) yang sudah malu ini tambah malu……..

sumber: ini (c) penulisnya


Leave a response

Your response:

Categories